Sosok TGF, Tuan Guru Muda Alumni Mesir yang Berpotensi Masuk Bursa Cabup Lombok Timur

  • Bagikan

Gatanews.id, Lombok Timur | Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Lombok Timur 2024 mulai memanas. Setelah sejumlah tokoh sudah menyatakan diri siap bertarung pada kontestasi lima tahunan tersebut, kini beberapa tokoh potensial mulai bermunculan. 

 

Salah satunya adalah TGH Fauzan Zakaria Amin Lc,. M.Si.

 

Meski belum sempat mengenyam jabatan strategis dalam legislatif maupun eksekutif, Tuan Guru Fauzan (TGF) sudah malang melintang dalam dunia politik. Baik di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB maupun di kancah politik nasional.

 

Lantas, siapa sosok pria yang akrab disapa TGF? Berikut ulasannya.

 

TGF lahir di Mamben Lauq, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur pada 31 Desember 1981. Saat ini, usianya baru beranjak 42 tahun.

 

Dia menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pondok pesantren. Setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Wathan Lengkok Lombok Timur pada 1987-1993, dia kemudian melanjutkan sekolahnya di Madrasah Tsanawiah Al-Islahuddiny Kediri, Lombok Barat pada 1993-1996.

 

Tidak cukup tiga tahun, anak kedua dari lima bersaudara itu melanjutkan study di tempat yang sama pada jenjang Madrasah Aliyah Al-Islahuddiny Kediri mulai 1996-1999.

 

Mulai beranjak remaja, Fauzan kecil ternyata masih haus akan ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Dengan modal keyakinan yang amat kuat, dirinya kemudian bertekad melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar Mesir.

 

Padahal, kala itu (pada tahun 1999), hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendapatkan akses pendidikan di salah satu universitas islam tertua di Dunia tersebut.

 

Namun keyakinan itu tak pernah surut. Dari informasi yang diterima keluarganya, dia harus mencari jejaring di jakarta dari kalangan alumni Al-Azhar agar bisa mendapatkan informasi penerimaan mahasiswa di Al-Azhar Mesir.

 

“Saya sempat dua bulan di Jakarta, terseok-seok dan sempat jadi guru ngaji. Sambil menunggu informasi pembukaan pendaftaran mahasiswa, setidaknya ada jalur mendapatkan visa ke Mesir. Alhamdulillah, saya bisa terbang ke Mesir dan dapat beasiswa dari Al-Azhar selama empat tahun,” ceritanya mengenang.

 

Setelah lulus dari Universitas Al-Azhar Mesir pada tahun 2003, dia lantas mendapatkan kepercayaan di Arab Saudi untuk menjadi petugas haji pada tahun 2004.

 

Modal sebagai petugas haji itu pun kemudian yang dibawanya ke kampung halamannya dan kemudian mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Al-Madani.

 

Pada usianya ke 23 tahun, sangat banyak masyarakat sekitar, bahkan keluarga yang awalnya ragu ketika anak dari seorang pedagang kecil di pasar tradisional, mampu mendirikan pondok pesantren di tengah perkampungan.

 

Namun berkat doa kedua orangtua, akhirnya perlahan namun pasti, pondok pesantren yang didirikannya menjadi salah satu pondok pesantren unggulan di Lombok Timur, bahkan di Nusa Tenggara Barat yang santrinya datang dari lintas provinsi.

 

Kesuksesannya mendirikan yayasan pondok pesantren dan kiprah sosial lainnya di masyarakat membuat seniornya di Al-Azhar, Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi yang saat itu menjabat Gubernur NTB, memanggilnya untuk membantu dalam proses pembangunan Nusa Tenggara Barat.

 

Beberapa jabatan pun pernah direngkuhnya. Mulai menjadi Pelaksana Event Wisata Qurban Muslim Singapore – Lombok Timur, Tenaga Pelaksanaan Haji di Madinah dari Departemen Agama Rl,

Direktur Utama CV. Majra Tour and Travel, Mediator event promosi pariwisata NTB di Dubai, UEA, Ketua Panitia Conferensi Ulama lnternational dan Multaqa Alumni

IV Al-Azhar Mesir.

 

TGF juga menjadi Pendamping dan Penerjemah Para Imam Besar dalam Event Pesona Khazanah Ramadhan di NTB, hingga dipercaya menjadi Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB pada tahun 2017 – 2019.

 

Bukan hanya itu, sederet pengalaman dalam bidang organisasi pernah dijabatnya. Seperti menjabat sebagai Pengurus Organisasi Keluarga Besar Santri Islahudsini (KBSI) Lombok Timur, Ketua Keluarga Mahasiswa Nusa Tenggara & Bali (KM-NTB), Ketua Ikatan Dai lndonesia (KADI) Kabupaten Lombok Timur, Sekretaris Jendral Forum Komunikasi Alumni Timur Tengah (FKAT) NTB, Pendiri dan Pimpinan Yayasan Ponpes Al-Madani Lombok Timur, Ketua LSM Gerakan Membangun Masyarakat Kawasan Rinjani

(GERBANG MASA KINI) Lombok Timur,

Ketua Umum Asosiasi Pariwisata lslami Indonesia (APll), Ketua Wilayah Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia wilayah NTB, Ketua Il Majelis Ulama lndonesia (MU) Kabupaten Lombok Timur, Wakil Ketua Umum DPP Badan Koordinasi Mubaligh Indonesia, Pendiri dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Nidaurrahman Bogor, Wakil Ketua I Forum Kerjasama Pondok Pesantren NTB, Inisiator dan pendiri pesatuan Muballigh Asia Tenggara, Ketua Asosiasi Media Siber indonesia (AMSI) NTB, Ketua Asosiasi Pengusaha Pertambangan Indonesia wilayah NTB, Ketua Umum Yayasan Peduli Wisata indonesia (YPWI), Ketua Koalisi Lombok Maju (KLM) dan menjabat Ketua Organisasi Internasional AlumniAl-Azhar (OIAA) NTB hingga sekarang.

 

“Alhamdulillah saat ini saya juga diamanatkan sebagai Ketua Pimda Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) NTB. Siapa bilang santri tidak boleh berpolitik? Justru dengan berpolitik, pengabdian keumatan jauh lebih besar manfaatnya,” katanya.

 

“Ingat, segenggam kekuasaan lebih dahsyat dari seribu da’i, segenggam kekuasaan lebih efektif dari segudang kepintaran, dan seratus fatwa ulama bisa dikalahkan dengan satu tanda tangan seorang umara dan Bila Menyangkut kemaslahatan rakyat, agama, bangsa,negara apa yang termahal dalam diri kitapun harus siap di korbankan” ujar pria lulusan S2 Universitas Darul Ulum Jombang Jawa Timur 2012 – 2014 itu. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *