Gatanews|Mataram – Pertemuan bilateral antara Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. Lalu Muhamad Iqbal dan Menteri Pembangunan Internasional Kanada Randeep Singh Sarai, Sabtu (10/1/2026), berlangsung hangat di Gedung Bank NTB Syariah Mataram. Diskusi berjalan terbuka dengan fokus pengenalan potensi daerah, mulai sektor pariwisata hingga energi terbarukan.
Iqbal hadir bersama Ketua TP PKK NTB Sinta Agarthia Iqbal serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah. Dalam forum tersebut, arah pembangunan daerah dipaparkan lengkap dengan pendekatan ekonomi hijau, pembangunan berkelanjutan, serta penguatan pembangunan inklusif.
“NTB merupakan wilayah strategis Indonesia, dengan keunggulan komparatif dan kompetitif di berbagai sektor unggulan, mulai dari pariwisata, pertanian, peternakan, perikanan, energi terbarukan, hingga sumber daya mineral, yang seluruhnya diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Dalam pemaparan lanjutan, Iqbal menyoroti sektor pariwisata sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi daerah. Saat ini NTB memiliki 265 destinasi wisata. Rinciannya 171 wisata alam, 31 wisata budaya, 12 wisata religi, 7 wisata buatan, serta 43 wisata petualangan.
Selain itu terdapat 15 kawasan hutan wisata dan 375 desa wisata. Dari jumlah tersebut, 93 desa wisata telah memenuhi standar nasional.
“Sektor pariwisata NTB telah menyerap 422.498 tenaga kerja, didukung oleh 4.137 tenaga kerja pariwisata bersertifikat, serta 5.966 pelaku usaha pariwisata, di mana 402 unit usaha telah tersertifikasi CHSE,” sebut Lalu Iqbal.
“Infrastruktur pariwisata ditopang oleh 1.078 hotel, terdiri atas 274 hotel berbintang dan 804 hotel nonbintang, yang tersebar di zona pariwisata seluas kurang lebih 32.808 hektare,” lanjutnya.
Penguatan pariwisata juga berjalan lewat peningkatan konektivitas udara. Rute domestik menuju Labuan Bajo, Malang, serta Banyuwangi mulai dibuka. Penerbangan internasional menuju Singapura dan Malaysia juga sudah beroperasi.
NTB juga membidik rute langsung menuju Perth, Bangkok, Darwin, dan Sydney. Pengembangan transportasi wisata berbasis pesawat amfibi atau seaplane ikut dibahas sebagai peluang kerja sama dengan perusahaan asal Kanada.
Di sektor pangan, NTB tercatat memiliki produksi padi mencapai 1.453.451 ton gabah kering giling dari lahan 280.027 hektare. Angka tersebut setara sekitar 973.812 ton beras. Produksi jagung mencapai 2.465.293,40 ton dari lahan 334.812,12 hektare.
Sektor peternakan juga menunjukkan angka positif. Produksi daging sapi pada 2025 mencapai 14.120 ton dengan konsumsi daerah sekitar 12.250 ton di luar Program Makan Bergizi Gratis.
“Kondisi ini membuka peluang kerja sama investasi, dalam peternakan terintegrasi dan industri pengolahan hasil ternak,” ucapnya.
Bidang perikanan juga mencatat produksi besar, mulai udang vaname 198.639 ton hingga rumput laut 704.810 ton. Komoditas lain seperti tuna dan cakalang ikut menopang sektor kelautan.
“Pelabuhan perikanan strategis seperti Teluk Awang, Labuhan Lombok, Tanjung Luar, Sape, Teluk Santong, dan Soroadu menjadi pintu masuk pengembangan ekonomi biru dan hilirisasi hasil laut,” tuturnya.
Iqbal juga menyinggung potensi energi terbarukan di sejumlah wilayah seperti Huu, Sembalun, Sekotong, Jerowaru, serta Empang. Kapasitas potensi panas bumi dan tenaga angin mencapai sekitar 20 hingga 30 megawatt per lokasi.
“Selain itu, NTB memiliki cadangan mineral strategis seperti tembaga, emas, perak, mangan, dan pasir besi, yang telah menghasilkan produk turunan bernilai tinggi,” jelasnya.
Iqbal menilai pertemuan tersebut membuka ruang kemitraan strategis antara NTB dan Kanada.
“Kerja sama ini diharapkan mencakup pengembangan pariwisata berkualitas, hilirisasi produk pertanian, perikanan dan peternakan, pengembangan energi terbarukan serta transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” tegas Iqbal.
Menteri Pembangunan Internasional Kanada Randeep Singh Sarai hadir bersama Duta Besar Kanada untuk Indonesia Jess Dutton serta delegasi Kanada. Ia menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Pemerintah Provinsi NTB.
Kanada menunjukkan minat memperluas kolaborasi pada sektor energi berkelanjutan, pemberdayaan perempuan, kesehatan reproduksi, serta pendidikan. Berbagai program pembangunan Kanada di kawasan Asia Tenggara juga membuka peluang sinergi lebih luas dengan NTB dalam mendorong kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.(djr)










