HIV/AIDS Mengintai Generasi Muda Puskesmas Selong Minta Orang Tua Awasi Anak

Gatanews.id || Lombok Timur – Target zero kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di wilayah kerja Puskesmas Selong tahun 2026 harus terhenti lebih cepat dari yang diharapkan. Baru masuk triwulan pertama, satu kasus baru sudah tercatat.  

Kepala Puskesmas Selong, Baiq Lilik Setiawati, menyebut tren penularan kini bergeser. Jika dulu kasus lebih banyak ditemukan pada pekerja migran, kini usia produktif hingga remaja mulai ikut terpapar.  

“Harapan kita sebenarnya tahun ini nol, tapi ternyata triwulan satu ini sudah ada angka. Jadi target nol itu sudah pecah, karena tahun 2025 ada dua orang,” ujar Lilik di ruang kerjanya, Rabu (6/5/2026).

Data kumulatif menunjukkan 16 orang penderita HIV berada dalam pembinaan Puskesmas Selong. Tidak semua berasal dari Selong, tapi mereka rutin berobat di sana karena merasa nyaman dengan kerahasiaan layanan.  

Yang mengkhawatirkan, penularan kini menyentuh usia sekolah. Lilik menjelaskan, berdasarkan pengakuan penderita, kontak berisiko terjadi lewat transaksi yang diatur melalui aplikasi online.  

“Sekarang penyebarannya sudah mulai beranjak ke usia-usia muda. Pemicunya dari online. Jadi pemesanan-pemesanan itu lewat online,” katanya.  

Siswa SMA disebut paling rentan karena gaya hidup yang cenderung liberal. Banyak kasus baru terungkap setelah penderita mengeluhkan gejala infeksi saluran kemih.  

Kepala Puskesmas Selong, Baiq Lilik Setiawati.

Untuk menahan laju penularan, Puskesmas Selong gencar melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah. Edukasi diberikan spesifik agar siswa memahami batasan tubuh dan risiko perilaku seks bebas.  

Selain HIV, kasus sifilis juga tinggi. Bedanya, sifilis masih bisa disembuhkan total jika pasien rutin berobat.  

Puskesmas juga rutin menggelar pemeriksaan kesehatan gratis di Taman Kota Selong setiap bulan. Sasaran utamanya adalah kelompok berisiko, termasuk pemeriksaan infeksi menular seksual lainnya.    

Ke-16 penderita HIV yang masuk daftar kumulatif tidak dikarantina. Puskesmas memilih pendekatan pembinaan agar rantai penularan bisa diputus tanpa melanggar privasi.  

“Mereka proaktif, jadi kita terus berikan edukasi agar tidak menyebarkan lagi ke orang lain. Kita juga minta mereka berterus terang kepada pasangan masing-masing,” jelas Lilik.  

Puskesmas mengimbau orang tua memperketat pengawasan penggunaan perangkat digital anak. Tujuannya mencegah pergaulan bebas berbasis aplikasi yang kini jadi salah satu pintu masuk penularan HIV/AIDS di kalangan remaja. 

Sebagai informasi, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, sementara AIDS stadium akhir infeksi HIV di mana daya tahan tubuh rusak parah. HIV menular melalui cairan tubuh, sedangkan AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit akibat HIV.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *