Gatanews|Jakarta — Hilal pada 29 Ramadhan 1447 H, dipastikan belum memenuhi kriteria imkanur rukyah (penentuan awal bulan Qamariyah). PBNU memastikan Idulfitri 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Hasil hisab Lembaga Falakiyah PBNU bersama Kementerian Agama dan BMKG, menunjukkan tinggi hilal belum mencapai 3 derajat dan elongasi belum menyentuh 6,4 derajat.
Katib Syuriyah PBNU KH Sarmidi Husna, mendorong pemerintah tetap konsisten pada aturan yang sudah disepakati.
“Kami sangat berharap kepada Kementerian Agama untuk transparan dan konsisten, terhadap kesepakatan MABIMS dan Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026 menjadi dasar hukum,” ungkapnya.
Ia menekankan, imkanur rukyah jadi acuan utama dalam menerima laporan rukyatul hilal. Jika minimal lima metode falak qath’iy menyatakan hilal mustahil terlihat, maka laporan rukyah layak ditolak.
Sarmidi juga menyoroti dugaan upaya mengubah kriteria demi menyamakan awal Syawal. Salah satu skenario dengan menurunkan batas elongasi dari 6,4 derajat menjadi 6 derajat.
“Sehingga ada upaya untuk merubah kriteria elongasi menjadi 6 derajat,” ucapnya.
Selain itu, muncul langkah mengirim tim rukyah ke Aceh dengan harapan memperoleh hasil pengamatan.
“Dengan pesanan hasil dapat melihat hilal meskipun datanya tidak valid,” katanya.
Ketua LF PBNU KH Sirril Wafa menilai wacana percepatan Idulfitri tidak logis. Data hisab dari berbagai sumber, justru menunjukkan posisi hilal masih di bawah kriteria.
“Posisi hilal pun menurut hisab yang dihimpun seluruhnya menunjukkan angka di bawah kriteria yang disepakati,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan adanya manuver yang berpotensi mengubah hasil sidang isbat dengan mengutak-atik data.
“Lalu bagaimana dengan komitmen yang selama ini dibangun dan dirawat oleh semua stakeholder di wilayah masing-masing Ormas,” ujarnya.
LF PBNU mengajak umat menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari. Dengan hitungan tersebut, Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
“Selain posisi hilal belum imkan rukyat, juga menekankan agar Kementerian Agama harus dan harus ekstra hati-hati, dalam menetapkan cara mengawali dan mengakhiri Ramadhan,” kata Sirril.
Ia mengingatkan pentingnya sikap hati-hati dalam penentuan waktu ibadah.
“Ingat! Gegabah dalam penentuan waktu-waktu ibadah syar’iyyah berpotensi adanya afat (ketergelinciran, red),” tandasnya.
Data falakiyah menunjukkan hilal sudah di atas ufuk, namun belum memenuhi syarat visibilitas. Di Sabang, tinggi hilal tercatat sekitar 2 derajat 53 menit dengan elongasi 6 derajat 09 menit. Sementara di Jakarta, tinggi sekitar 1 derajat 43 menit dengan elongasi 5 derajat 44 menit.
Berdasarkan hasil tersebut, PBNU memastikan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026.(djr)












