Gatanews|Mataram – Jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), Polresta Mataram nggak cuma sibuk atur lalu lintas dan patroli titik rawan, tapi juga ‘bersih-bersih’ kerumunan ilegal, salah satunya aktivitas sabung ayam di Pura Wantilan.
Polisi bergerak cepat merespons laporan warga soal maraknya tajen (sabung ayam), Senin (1/12/2025) siang, yang diduga disertai taruhan judi. Lokasinya? Tepat di area Pura Wantilan Karang Siluman, Cakranegara — area yang sejatinya diperuntukkan bagi kegiatan adat dan ritual keagamaan umat Hindu.
Alih-alih berlangsung saat ritual tertentu, aktivitas ity disebut-sebut digelar hampir setiap hari, memicu kerumunan, mengarah ke praktik perjudian, dan bikin warga sekitar geleng-geleng kepala.
Kapolresta Mataram Kombes Pol. Hendro Purwoko, S.I.K., M.H. memimpin langsung penertiban. Begitu tiba di lokasi, ring sabung ayam dibubarkan seketika, kerumunan diurai, dan pelaku diberi peringatan tegas.
“Pura itu tempat suci dan ruang adat. Boleh untuk ritual sesuai waktu dan tradisi, tapi kalau tiap hari, apalagi ada taruhan, itu masuk kategori judi. Dan jelas kami tindak” ujar Kombes Hendro saat dimintai keterangan.
Menurutnya, pembubaran tersebut bukan cuma soal hukum, tapi juga upaya preventif menjaga suasana tetap kondusif, aman, dan nyaman lebih-lebih menjelang Nataru — momentum dimana warga mestinya fokus ibadah, liburan, dan kumpul keluarga.
“Tidak ada toleransi untuk praktik perjudian yang ganggu kenyamanan warga. Kami pastikan Mataram tetap damai sampai pergantian tahun.” tandasnya.
Polisi juga mengimbau masyarakat, untuk aktif jadi mitra pengawas di lingkungan masing-masing. Kalau menemukan aktivitas tajen yang kembali ‘nyasar’ jadi arena taruhan di lokasi serupa, warga diminta segera melapor.
“Kalau ada lagi, tinggal infokan. Kami siap gerak lagi. Biar Wantilan tetap jadi tempat sembahyang dan budaya, bukan ruangan taruhan.” kata Hendro.
Sebagai langkah lanjutan, Polresta Mataram memastikan patroli akan terus ditingkatkan, khususnya di titik-titik rawan kerumunan dan kegiatan ilegal lainnya. Penindakan cepat di Pura Wantilan Karang Siluman itu pun, jadi bukti jika aparat serius menjaga keharmonisan sosial dan kesucian ruang adat.
Buat umat Hindu setempat, tajen dapat jadi tradisi yang punya nilai budaya dan ritual. Tapi, kata polisi, ketika jadi kegiatan harian apalagi pakai uang taruhan, garisnya jelas terlewati.
Polisi, pemuka adat, dan warga kini punya misi yang sama — jaga Pura, jaga tradisi, stop perjudian. Karena ademnya akhir tahun di Mataram bukan kebetulan, tapi hasil kerja bareng semua pihak.(djr)












