Tokoh NTB “Ekadana” Dianugerahi Citra Adhidharma Nusantara ‘99

Gatanews.id | Mataram – Yayasan Anugerah Prestasi Indonesia (Anugerah Indonesia) menganugerahkan  penghargaan “Citra Adhidharma Nusantara 1999”, kepada salah satu tokoh di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), atas pengabdiannya dan dharma bhaktinya bagi nusa dan bangsa Indonesia. Hal itu terungkap dalam diskusi publik dengan tema “Perjalanan Sang Tokoh”, Senin (15/8/2022), di Sayung Resto Jalan Bung Karno No.31 Kota Mataram.

Tokoh NTB yang dianugerahi Citra Adhidharma Nusantara ’99 itu adalah I Gusti Putu Ekadana, S.H., Direktur Ekadana and Associates yang merupakan alumnus Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) tahun 1985.

Dalam paparannya terkait NTB yang melingkupi dua pulau utama yakni Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, Ekadana mengungkapkan bahwa secara topografi NTB kaya akan keanekaragaman hayati baik flora dan fauna. Keberadaan dua gunung berapi yakni Rinjani di Pulau Lombok dan Tambora di Pulau Sumbawa, pun menjadikan NTB subur dan berlimpah keanekaragaman mineral seperti emas, galena, pasir besi dan lain-lain.

“Namun sangat disayangkan kehidupan masyarakat NTB tidak berbanding lurus dengan keadaan alamnya yang kaya raya,” ungkap Ekadana.

Banner Iklan Aruna

Advokat kondang yang pendiri Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Rakyat (YLBHR) NTB itu juga mengatakan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB nomor dua dari belakang setelah Provinsi Papua.

“Ibarat ayam mati di lumbung padi, istilah ini mungkin tidak berlebihan dalam menggambarkan keadaan ekonomi sosial masyarakat Nusa Tenggara Barat,” katanya.

Menurut Ekadana, kondisi itu memantik dirinya bersama beberapa tokoh sealiran untuk mendobrak tembok kemiskinan masyarakat yang hidup di alam kaya raya, NTB.

“Saat itu saya berkomitmen dalam diri, otak harus digunakan untuk menata, mulut harus digunakan untuk bicara, badan harus digunakan untuk bekerja dan hati digunakan untuk memanjatkan doa,” ujar Ekadana.

Selain itu, kata Ekadana, pergolakan yang terjadi pada dirinya dalam mendobrak dinding tebal kenyataan NTB itu, juga dipengaruhi oleh filsafat kehidupan Presiden Soekarno selaku pendiri bangsa Indonesia.

“Bung Karno mengatakan, manusia ketika ingin hidup harus makan, yang dimakan adalah hasiil kerja, tidak bekerja tidak makan, tidak makan maka matilah iya sebagai manusia,” kutipnya.

“Filsafat kehidupan Bung Karno inilah yang memantapkan hati saya dan di fase ini awal inilah saya memulai advokasi masyarakat, untuk mengakses sumber-sumber kehidupan masyarakat,” imbuh Ekadana.

Dalam diskusi publik “Perjalanan Sang Tokoh” tersebut, hadir juga selaku pembicara Sekretaris Daerah (Sekda) NTB HL. Gita Aryadi, Penglingsir Puri Agung Cakranegara Anak Agung Made Djelantik Agung Briang Wangsa yang juga Ketua Paruman Walaka PHDI NTB, Ketua PHDI Pemurnian NTB Pinandita I Komang Mangku Rena dan beberapa pembicara lainnya.

Ditemui usai memberikan paparan, Sekda NTB HL. Gita Aryadi memberikan tanggapan para peserta diskusi yang menyoroti beberapa kebijakan Pemerintah Daerah (Pemda) NTB.

“Terkait hal-hal yang diungkapkan para peserta diskusi tadi, kami belum tahu informasi yang lengkap. Sepanjang itu adalah untuk kemaslahatan bersama, tugas pemerintah adalah memfasilitasi sebagaimana yang diharapkan,” ucap Gita singkat dan langsung memasuki mobil.

Untuk diketahui, diskusi publik “Perjalanan Sang Tokoh” yang dianugerahi “Citra Adhidharma Nusantara ‘99” itu, dihadiri berbagai kalangan mulai mahasiswa, pemuda, tokoh LSM, tokoh masyarakat dan lain-lain. (Djr/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *