Gatanews.id, Mataram | Tabung gas Elpiji 3 kg yang diperuntukkan bagi rumah tangga, justru banyak digunakan di bidang industri. Seperti yang terjadi di Dompu. Beberapa industri di Dompu menggunakan gas Elpiji 3 kg untuk kebutuhan sehari-hari.
Hal tersebut menyebabkan harga tabung gas Elpiji 3 kg di Dompu tembus mencapai Rp 30 ribu pertabung. Harga ini diatas Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kemarin kan stok, sekarang harga (jadi persoalan). Tentu harapan kami, stok ada maka harga tidak boleh naik atau stabil. Satu kecamatan di Dompu gas 3kg harganya Rp 30 ribu pertabun,” kata Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) NTB, Baiq Nelly Yuniarti, Senin (12/06).
Beberapa waktu lalu juga di Dompu sempat terjadi kekurangan pasokan gas Elpiji 3 kg. Karena keterlambatan pasokan, lantaran adanya libur panjang diawal Juni 2023 kemarin. Sehingga itu membuat kebutuhan masyarakat terlambat datang.
“Untuk di Dompu ini memang selain karena penggunaan oleh beberapa masyarakat yang bergerak di bidang industri. Juga ada penambahan kebutuhan. Penambahan inilah rupanya terlambat di informasikan, sehingga tidak masuk dalam kuota,” tuturnya.
Namun dari Pertamina telah kembali memasok kebutuhan Elpiji 3 kg untuk memenuhi ketersediaan dan kebutuhan masyarakat. Pada 7 Juni 2023 sudah mengirim 5.600 tabung, kemudian 9 Juni 2023 dikirim lagi 2.240 tabung. Dan 10 Juni sebanyak 1.220 tabung.
Sehingga sudah 8.960 tabung yang sudah dikirim ke Dompu. Jumlah Ini setara dengan 155 persen alokasi harian, ini tambahan yang dikirim ke Dompu disaat kesulit gas Elpiji 3 Kg
“Sampai hari ini stoknya ada. Tinggal harganya saja, tapi harga ini di satu titik kecamatan tinggi. Tapi dari Disdag Dompu sudah mulai turun ke lapangan untuk mengecek harga,” terangnya.
Lantaran harga tabung gas Elpiji 3 kg cukup tinggi diatas HET. Padahal sewajarnya harga Elpiji 3 kg berkisaran di Rp 20 ribu pertabung.
Maka dari Disdag NTB berkoordinasi dengan Bupati Dompu dan Disdag Dompu untuk mengecek langsung kelapangan.
“Penyebab harganya tinggi, mungkin mereka melihat limitnya. Karena jadwal kirimnya mundur ketika hari libur panjang itu. Kekosongan di hari weekend itu tersendat di Dompu, termasuk masyarakat yang membeli untuk industri pertanian,” bebernya
Untuk itu Disdag NTB bersama Pemkab dan Disdag Dompu akhirnya mencoba merekap ulang berapa kebutuhan untuk rumah tangga. Pasalnya, dari industri juga ikut menggunakan, yang seharusnya mereka tidak memakai gas subsidi.
“Industri pertanian untuk pom air, ada strika laundry. Disitulah kami butuh teman-teman untuk sosialisasi, bahwa diaturannya memang tidak boleh, termasuk ASN juga. Pelaku industri di sarankan tidak menggunakan gas subsidi,” jelasnya.
Meskipun sudah ada aturan larangan industri gunakan gas 3 kg. Tetapi belum ada sanksi yang diberikan kepada mereka, karena belum ada aturan itu. Sehingga hanya diberikan himbauan saja.
“Kita tegur dan larang saja, tidak dikenakan sanksi. Kalau gas melon tidak untuk UMKM. Yang subsudi ini kan rumah tangga,” tutup Nelly. (*)












