Gatanews.id, Lombok Barat | Potensi ekspor cukup besar Pemerintah daerah (Pemda) terus menggenjot Komoditas vanili. Karena sangat potensial untuk mendorong ekonomi non tambang di NTB.
Hal tersebut lantaran ditingkat atas vanili dianggap sangat menggiurkan. Namun nyatanya ditingakat petani tidak menggiurkan, karena harganya yang cukup rendah.
Seperti di alami beberapa petani vanili dari Dusun Kumbi Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Dimana masyarakat setempat sangat tergiur dengan hasil dari menanam vanili.
Sebab berdasarkan informasi yang beredar harganya bisa sampai Rp 250.000 perkilo. Tetapi belakangan ini harga vanili tidak lagi semenarik informasi tersebut. Bahkan hanya dihargai Rp 50.000 perkilo kondisi basah.
“Dengan harga seperti ini apa yang kita dapatkan. Kita mau jual kemana? Kita sangat mengharapkan pemerintah melakukan pembinaan kepada kami,” ujar Ketua Kelompok Wana Abadi sekaligus petani Vanili, Dusun Kumbi, Supardi saat ditemui dikebunnya, Selasa (13/06).
Dikatakan, pada kelompoknya ada 120 petani penggarap kawasan hutan dan seluruhnya menanam vanili. Vanili sendiri adalah tanaman tumpang sari. Bisa tumbuh dan merambat pada batang pohon di sekitarnya.
Petani setempat tidak melakukan pemupukan, ataupun penyemprotan dengan insektisida. Mereka hanya melakukan pembersihan gulma. Ditambah belakangan ini tanaman vanili yang ditanam diserang penyakit busuk batang.
“Kalau ada penyakit begini bagaimana cara mengatasinya. Kalau sudah panen kita jualnya kemana,” katanya.
Apalagi sekarang ini dianggap sebagai komoditas yang tak lagi menjanjikan. Sehingga banyak petani vanili sudah beralih ke tanaman buah lainnya, seperti Durian. Lantaran dianggap paling menjanjikan dibandingkan vanili.
“Daripada mereka menanam vanili tapi belum jelas hasilnya, mereka beralih tanam durian,” tuturnya.
Senada dengan Supardi, H Andi mengeluhkan persoalan yang sama. Lantaran dirinya baru-baru ini menjual vanili hasil panen vanili dengan harga jual hanya Rp 75.000 perkilo kondisi basah. Harga ini dinilai rendah sehingga petani tak berminat memanen.
“Dikasi tahu sudah tidak ada lagi bos-bos yang beli vanili. Makanya sampai tiga bulan kita tidak panen. Kami biarkan saja buahnya pecah begitu di pohon,” ungkapnya.
Meski demikian, beberapa petani masih ada pengharapan untuk tetap menanam vanili. Lantaran dalam pemeliharaan tidak membutuhkan biaya besar dibandingkan dengan tanaman lainnya.
Namun diharapkan pemerintah sebagai pembina agar turun melakukan pendampingan kepada petani.
“Kami berharap ada pendampingan pemerintah, agar tanaman vanili di Dusun Kumbi bisa juga dipasarkan keluar. Seperti halnya vanili didaerah lain,” imbuhnya.
Mengingat baru-baru ini NTB mengekspor 1 ton vanili ke Amerika Serikat. Dilepas di Balai Karantina Lembar, Kabupaten Lombok Barat.
Apalagi permintaan pasar luar negeri sangat menjanjikan. Dari satu buyer saja di Amerika Serikat membutuhkan sebanyak 23 ton vanili NTB. (*)












