Demosntrasi Kontekstual Modul 3.1 oleh Hajar Aswad

Gatanews.id ,Luwu Utara ( 21/12022)

Oleh : Hajar Aswad
CGP Angkatan 5 Luwu Utara
SDN 236 Beringin

Saya adalah Seorang Guru Kelas di SDN 236 Beringin Kecamatan Tana Lili Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan ,dalam Hal ini Menuliskan Sebuah Hasil Wawancara dengan Beberapa Pimpinan yang utamanya di sekolah saya sendiri .

Nama Kepala Sekolah Saya adalah Bapak Andarias Bola Kombong, S.Pd. ,Saya melakukan wawancara dengan bapak kepala sekolah Pada Tanggal 21 Oktober 2022 ,Tepatnya di Ruang Kantor SDN 236 Beringin .
Sebelum Saya Menuliskan tentang Hasil wawancara Tentunya saya ingin menjelaskan dulu alur Tugas Kami dari Program Guru Penggerak Angkatan 5 Kabupaten Luwu Utara .

 

wawancara ini adalah untuk mendapatkan sebuah wacana tentang praktik pengambilan keputusan yang selama ini dijalankan, terutama untuk kasus-kasus yang di mana nilai-nilai kebajikan saling bersinggungan, atau untuk kasus-kasus dilema etika yang sama-sama benar.

Setelah mempelajari modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran , saya sadar bahwa banyak hal yang harus kita perhatikan dalam mengambil suatu keputusan baik dalam kehidupan sehari hari maupun hal yang nyata kita lakukan di sekolah sebagai seorang pendidik .
Berhubung dengan Tugas kami sebagai calon guru penggerak dilatih dalam bertindak sebelum mengambil sebuah keputusan yang tentunya kita harus memperhatikan hal hal sebagai berikut :

Dalam pengambilan keputusan ada dua hal yang terjadi yaitu Dilema etika dan bujukan moral :
– Dilema etika atau Benar VS Benar adalah sebuah situasi dimana seseorang dihadapkan pada situasi keduanya benar namun bertentangan dalam mengambil sebuah keputusan .
– Bujukan moral atau Benar VS Salah adalah sebuah situasi yang terjadi dimana seseorang dihadapkan pada situasi benar atau salah dalam mengambil sebuah keputusan .

4 (empat) paradigma dilema etika yang dapat kita identifikasi pada kasus dilema etika yang kita rasakan, yaitu :
1. Individu lawan kelompok (individual vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Selain itu ada juga 3 (tiga) prinsip yang bisa kita gunakan untuk menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan yaitu 3 (tiga) prinsip pengambilan keputusan yaitu :
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Kemudian terdapat 9 (sembilan) tahapan pengambilan dan pengujian keputusan, yaitu :
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
4. Pengujian benar atau salah
5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.
6. Melakukan Prinsip Resolusi
7. Investigasi Opsi Trilema
8. Buat Keputusan
9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Pada tugas demonstrasi kontekstual ini saya akan melakukan wawancara dengan pimpinan sekolah dasar negeri 236 Beringin untuk menggali lebih jauh bagaimana cara cara dan trik bapak kepala sekolah dalam mengambil sebuah keputusan saat menemui kasus kasus berupa Dilema Etika atau Bujukan Moral .

Hasil wawancara saya dengan bapak Andarias Bola Kombong Sebagai Pimpinan di SDN 236 Beringin Intinya Beliau Sebelum mengambil Keputusan dalam kasus dilema etika atu bujukan moral beliau selalu mengedepankan Observasi Nyata Sebelum Mengambil Tindakan . Salah satunya yang beliau lakukan dalam kasus individual yaitu mencari tau lansung dari pihak 1 dan pihak 2 sambil mendengarkan beberapa pendapat untuk mengumpulkan Fakta untuk menjadi bahan sebelum bertindak memutuskan sesuatu hal . yang tentunya jika kasus ini erat kaitannya tentang permasalahan sekolah tentunya bapak kepala sekolah berdiskusi melibatkan semua pihak di sekolah yang akhirnya beliau bisa mengambil keputusan secara sah .

Pada dasarnya pengambilan keputusan, hal-hal yang perlu dilakukan adalah :
1. Mengidentifikasi kasus (melihat dan mendengar situasi lingkungan sekitar)
2. Melakukan pendekatan personal
3. Mengajak diskusi bersama
4. Mendengarkan semua permasalahan dari pihak-pihak yang terlibat
5. Mengambil keputusan bukan untuk kepentingan pribadi
6. Waktu pengambilan keputusan dilakukan se-segera mungkin, tidak menunda-nunda sehingga masalah menjadi rumit dan besar

Sebagai kesimpulan bahwa Setiap Pemimpin harus pandai pandai dalam bertindak , tidak boleh gegabah atau terburu-buru ,apalagi jika hanya ingin mengambil keputusan secara sepihak . Sebagai Pemimpin Satuan Pendidikan tentunya Kita Harus Melibatkan semua Stakholder yang ada di sekolah itu .

Demikian tugas saya ini kurang lebihnya mohon dimaafkan wabillahi taupik walhidayah wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu .

Hajar Aswad , CGP Angkatan 5 Luwu Utara .

Editor: Hajar Aswad / Biro Sulsel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *