Gatanews|Mataram — Sosok akademisi yang satu ini bukan nama baru di Universitas Mataram (Unram). Profesor termuda Unram pada 2019, Prof. Dr. Kurniawan, S.H., M.Hum., telah resmi sebagai bakal calon Rektor Unram periode 2026–2030. Dengan rekam jejak panjang di dunia akademik, tata kelola kampus, hingga peran publik tingkat provinsi dan nasional, ia menyebut langkah ini sebagai “komitmen untuk membawa Unram melompat lebih tinggi”.
“Saya membawa pengalaman struktural dan jejaring, yang Insya Allah bisa memperkuat arah besar Unram ke depan — dari tata kelola, mutu akademik, sampai inovasi industri kampus.” ujar Prof Kurniawan, Rabu (10/12/2025), saat ditemui awak media.
Rekam Jejak: Dari Dosen Muda hingga Pucuk Struktural
Prof Kurniawan memulai kariernya sebagai dosen tetap di Fakultas Hukum Unram pada 2003. Ia lalu naik cepat ke berbagai jabatan strategis seperti Ketua Bagian Hukum Bisnis (2008–2013), Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan Fakultas Hukum Unram (2013–2018; dua periode), Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unram (2018–2022), dan Ketua Program Doktor Ilmu Hukum FHISIP (2025–sekarang).
Di tangan Kurniawan, berbagai pembenahan tata kelola keuangan, SDM, fasilitas, dan pengelolaan aset kampus dilakukan secara sistematis lewat penguatan SOP, pengawasan, hingga program kolaborasi lintas fakultas.
“Tantangan Unram kini bukan hanya menjadi kampus besar, tapi kampus yang agile—trengginas dalam riset, relevan dalam industri, dan dekat dengan masyarakat, khususnya NTB,” ungkapnya.
Pengalaman Nasional: Dari APHKI hingga Panel Debat Pilgub
Di luar kampus, Prof Kurniawan juga aktif di level nasional. Ia menjabat Ketua Harian Asosiasi Pengajar Hak Kekayaan Intelektual (APHKI) Indonesia sejak 2023.
Ia juga dikenal publik sebagai panelis debat kepala daerah, baik sebagai Ketua Debat Pilkada Kota Mataram tahun 2020, hingga anggota panelis Debat Calon Gubernur NTB tahun 2024.
Jejaringnya yang luas di bidang hukum, kebijakan publik, dan kepemiluan dianggap menjadi modal penting dalam memperkuat diplomasi kampus dan kolaborasi antar lembaga.
Visi: Kampus Maju, Transparan, dan Berdampak
Dalam visinya, Prof Kurniawan menekankan tiga fokus besar:
Pertama, tata kelola yang bersih dan modern yang meliputi penguatan sistem keuangan, SDM, dan pengelolaan aset secara digital dan transparan. Kedua, hilirisasi ilmu dan inovasi nyata untuk NTB dengan mendorong Unram menjadi hub riset dan inovasi yang berdampak langsung pada UMKM, industri wisata, dan sektor publik di NTB.
Ketiga, penguatan ekosistem akademik berstandar global mulai dari peningkatan publikasi, coaching penulisan, klinik riset, hingga kolaborasi internasional.
“Selanjutnya, Unram punya potensi besar menjadi kampus unggul di kawasan timur Indonesia. Kita punya SDM hebat, jejaring luas, dan komitmen yang terus tumbuh. Tinggal dipercepat, disinergikan, dan diperkuat eksekusinya,” tegas profesor kelahiran Ranggagata, 3 Maret 1977 itu.
Segudang Prestasi: Dari Lulusan Terbaik hingga Guru Besar Termuda
Dalam catatan kariernya, sejumlah capaian menonjol turut menjadi nilai lebih. Prof Kurniawan lulus Sarjana Fakuktas Hukum Unram pada 2000, Wakil Rektor termuda Unram (usia 41 tahun) pada 2019, Guru Besar termuda Unram tahun 2019 di usia 42, dan jabatan akademik Pembina Utama (IV/e) termuda Unram pada 2024 di usia 47 tahun.
Selain memimpin berbagai unit usaha kampus seperti Unram Press, Kantin Rektorat, hingga Business Center, ia juga produktif menulis buku dan artikel ilmiah tingkat nasional-internasional, terutama di bidang hukum bisnis dan perlindungan konsumen.
Ketika ditanya apa motivasinya maju sebagai rektor, Prof Kurniawan menjawab singkat namun penuh arti:
“Saya ingin mengembalikan Unram pada akar pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menguatkan posisinya sebagai universitas riset yang modern dan berdaya saing. Ini ikhtiar bersama, bukan pribadi,” tandasnya.
Dengan modal pengalaman lengkap — akademik, manajerial, dan jejaring publik — nama Prof Kurniawan diprediksi bakal menjadi salah satu kandidat kuat, dalam kontestasi Rektor Unram 2026–2030.(djr)








