NTB  

Boy Samola, Kisah Perwira yang Selalu Dekat dengan Rakyat Pesisir

Gatanews.id|Mataram – Di balik seragamnya yang rapi, senyum ramah Kombes Pol. Boyke Fredrik Salmon Samola, S.IK., M.H. memancarkan ketenangan. Baru 29 hari menjabat sebagai Direktur Polairud Polda NTB, pria kelahiran Kota Tomohon, 24 Februari 1975 ini sudah akrab menyapa nelayan, berbincang dengan warga pesisir, dan mendengar cerita mereka tanpa jarak.

Berasal dari suku Minahasa, sapaan Boy Samola tumbuh di lingkungan yang menghargai kerja keras dan kebersamaan. Sejak kecil, ia terbiasa melihat laut sebagai bagian dari kehidupan. Mungkin, itulah yang membuatnya kini merasa “pulang” saat bertugas di Nusa Tenggara Barat (NTB), daerah yang lautnya membentang luas dan kaya sumber daya.

Jalan Panjang Seorang Perwira

Perjalanan Boy Samola di kepolisian bukanlah kisah singkat. Setelah lulus dari Akpol pada 1999, ia memulai karier di Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai Kapolsek Amfoang Selatan, lalu memegang sejumlah jabatan di Satlantas dan Sabhara di berbagai kabupaten.

Ia pernah merasakan atmosfer kerja di Kalimantan Barat sebagai Kasatlantas Pontianak Kota dan Wakapolres Sanggau, lalu dipercaya menjadi Kapolres di Luwu Utara dan Gowa, Sulawesi Selatan. Setiap pindah daerah, Boy Samola membawa prinsip yang sama, menjadi pemimpin yang mau mendengar dan hadir di tengah masyarakat.

Belajar Tanpa Henti

Meski jadwal dinas padat, Boy Samola tak pernah berhenti belajar. Selain pendidikan kepolisian seperti PTIK (2008) dan Sespimmen (2015), ia juga menyelesaikan S2 di Universitas Tanjungpura (2010). Bagi Boy Samola, pengetahuan adalah bekal penting agar bisa memimpin dengan bijak, dan mengambil keputusan yang tepat di lapangan.

Laut dan Rakyat Pesisir

Kini, sebagai Dirpolairud Polda NTB, Boy Samola membawa misi sederhana namun berarti, menjadikan laut sebagai sumber kehidupan yang aman dan terjaga. Ia sering mengingatkan anggotanya jika tugas Polairud bukan sekadar patroli, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat pesisir.

“Laut adalah beranda terdepan negara kita. Menjaganya berarti menjaga masa depan,” ucapnya dengan nada tegas namun penuh makna, Jumat (8/8/2025) malam.

Jejak yang Menginspirasi

Dengan dua tanda kehormatan—Satyalancana Kesetiaan 8 Tahun dan Satyalancana Pengabdian 16 Tahun—Boy Samola tetap rendah hati. Ia percaya jika penghargaan sesungguhnya yakni rasa aman yang dirasakan masyarakat.

Di tengah rutinitasnya, ia tak segan bercengkerama dengan anak-anak nelayan, menanyakan kabar keluarga, atau sekadar bercanda dengan warga yang ditemuinya di dermaga dan pesisir. Mungkin itulah yang membuat sosoknya cepat diterima di NTB, ia hadir bukan hanya sebagai pejabat, tapi juga sebagai sahabat laut dan rakyat pesisir.(djr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *