Daerah  

Pesan Bahaya Nikah Sedarah Allia dari Lombok Utara

Gatanews.id|Lotara — Di sebuah rumah sederhana di Dusun Teluk Nara, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, senyap duka masih terasa. Bayi mungil bernama Allia Hafizah telah pergi, di usianya yang baru tujuh bulan, ia menutup mata untuk terakhir kalinya, Jumat (20/6/2025), setelah berjuang melawan penyakit langka, Harlequin Ichthyosis.

Namun kepergian Allia bukan hanya tentang penyakit. Ia adalah pengingat yang memilukan akan satu kenyataan pahit yang masih tersembunyi rapat di beberapa sudut masyarakat kita, praktik pernikahan sedarah.

Tiga Bayi Satu Garis Keturunan Satu Luka yang Sama

Kisah Allia menggugah banyak pihak. Termasuk Ny. Heny Agus Purwanta, Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara. Saat mendengar kabar tentang Allia, Ny. Heny tak hanya mengirim bantuan. Ia datang langsung. Bukan dalam kapasitas sebagai istri pejabat, tapi sebagai seorang ibu yang ikut merasakan luka yang sama.

“Saya kaget dan sedih sekali. Ini bukan kasus pertama. Dalam keluarga ini, sudah ada dua bayi lain yang mengalami hal serupa sebelumnya,” ungkap Ny. Heny dengan mata berkaca-kaca.

Penyebabnya? Jejak pernikahan sedarah di masa lalu. Meski orang tua Allia bukan pasangan sedarah, ibunya adalah anak dari hubungan semacam itu. Efeknya? Seperti bom waktu yang akhirnya meledak di tubuh mungil Allia.

Kasih Sayang yang Tak Pernah Menyerah

Allia lahir dengan kondisi kulit yang kaku, bersisik, dan mudah pecah—gejala khas Harlequin Ichthyosis, kelainan genetik langka yang hanya dialami 1 dari 300.000 bayi di dunia. Dalam banyak kasus, bayi dengan kondisi ini hanya mampu bertahan beberapa hari. Tapi Allia bertahan hingga tujuh bulan—semata karena cinta luar biasa dari kedua orang tuanya.

“Mereka merawat Allia dengan sepenuh hati. Saya melihat langsung ketabahan mereka. Itu yang menguatkan saya untuk terus mendampingi,” ujar Ny. Heny.

Tak hanya dukungan emosional, Ny. Heny bersama Bhayangkari dan Dinas Kesehatan Lombok Utara, juga memberikan bantuan susu khusus dan perlengkapan bayi. Namun yang paling menyentuh yakni kehadiran, pelukan, dan rasa empati saat keluarga sedang dalam titik terendah.

“Allia pergi dalam pelukan cinta, tidak sendiri,” ucapnya.

Saatnya Berani Bicara dan Mengubah Budaya

Praktik pernikahan antar kerabat dekat, masih diyakini sebagian warga sebagai cara mempertahankan harta atau silsilah. Namun, seperti kisah Allia, realita menunjukkan jika ada harga yang terlalu mahal, nyawa generasi berikutnya.

“Fenomena ini nyata. Dan kita tidak bisa terus diam. Semua pihak harus bersinergi, pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat sipil,” tegas Ny. Heny.

Kabar baiknya, keluarga Allia kini mengambil langkah besar. Mereka memutuskan untuk menghentikan praktik pernikahan sedarah di keluarganya, dan mulai menyuarakan bahaya budaya tersebut kepada lingkungan sekitar. Langkah kecil, tapi punya potensi besar untuk menyelamatkan generasi masa depan.

Allia Telah Pergi, Tapi Pesannya Menggema

Di balik tubuh kecil yang telah tenang dalam damai, Allia meninggalkan pesan besar tentang pentingnya kasih sayang tanpa syarat, tentang pentingnya ilmu dan keberanian untuk melawan budaya yang tak lagi relevan. Tentang hak setiap anak untuk lahir sehat dan tumbuh tanpa beban kesalahan masa lalu.

“Mari jadikan kisah Allia sebagai pengingat, bahwa setiap anak, tak peduli bagaimana ia dilahirkan, berhak hidup dengan cinta dan martabat,” tutur Ny. Heny, lirih.

 

Lebih dari Sekadar Perawatan, Ini Soal Edukasi

Dokter Puskesmas Nipah, dr. Julinda Fatma Andini, mengungkap jika penyakit seperti ini sebenarnya butuh perawatan di rumah sakit rujukan dengan tim multidisiplin. Namun realita di lapangan sering tak semudah teori.

“Kami berupaya menjaga kelembapan kulitnya, mencegah infeksi, dan memantau pertumbuhannya. Tapi penyakit ini terlalu kompleks untuk ditangani di level puskesmas,” jelas dr. Julinda.

Lebih penting lagi, katanya, adalah edukasi. Sebab banyak masyarakat belum memahami bahaya pernikahan sedarah, dan selama itu masih terjadi, kasus-kasus seperti Allia dapat terus berulang.


Catatan Redaksi:
Mari kita bersama menyuarakan pentingnya edukasi kesehatan keluarga, dan keberanian meluruskan tradisi yang membahayakan. Karena masa depan anak-anak kita adalah tanggung jawab kita semua. (djr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *