Luwu Timur, Sulsel, 25/03/2022
Gerakan H.baso di sorowako terkesan sudah kehabisan akal, Makin hari makin tidak jelas tujuan pencapaiannya.
Setelah tuntutannya tdk dihiraukan pihak managemen vale.
Saat tampil dalam kapasitas sebagai pemegang kuasa korban tanah.
Kini H.baso kembali tampil sebagai mokole nuha. Namun sayangnya nama adat mokole nuha tidak di abadikan dalam catatan sejarah kerajaan/kedatuan luwu.
Abidin Arief To Pallawarukka.SH. Selaku pemegang Mandat Adat Pancai Pao. Saat dihubungi awak media gatanews. Menjelaskan jika Kerajaan Luwu tidak mempunyai riwayat dan tatanan sejarah tentang adat mokole nuha.
Namun yang ada dalam catatan sejarah sebagai dokumen Adat Pancai Pao yang masih tersimpan sampai hari ini. Bahwa pada tahun 1905 kedatangan kompeni belanda Kerajaan Matano diganti nama menjadi Distrik Nuha (Onder Afdeling Malili Celebes)
Makanya kami menyayangkan H.baso membrending dirinya sebagai mokole nuha dalam melakukan pressure ke pihak PT.Vale sebab kami telah bersurat ke Forkopimda Luwu Timur pada tahun 2018 Dimana saat itu kami membentuk Gerakan Poros Tengah Dalam penyelamatan Tatanan Adat sejarah kerajaan/kedatuan luwu.
Adat Pancai Pao saat itu menjadi Pelopor Gerakan langsung dibawa koordinasi pemegang mandat adat pancai pao Abidin Arief didampingi salah satu dari dewan adat pancai pao hajar aswad To Maradang serta puluhan tokoh adat lainnya dari masing masing wilayah adat sebagai keterwakilan tokoh adat tana luwu melakukan pembekuan dua SK Datu Luwu yg berbeda. Satu SK. Djemma Barue A.iwan Bau Alamsyah.SH Datu Luwu ke. 39 yg dipegang.H.umar Ranggo selaku mokole matano rahampu,u. Yang dikeluarkan dewan adat 12 versi Datu A.iwan. H.Umar ranggo kami bekukan SK nya karna saat itu mendeklarasikan dirinya sebagai raja matano.
Sedang SK. Datu Luwu Ke 40 Opu To bau A.Maradang mackulau.SH.MH. Dipegang H.baso mappaware La Mattulia sebagai mokole Nuha. Kami bekukan SK nya karna dianggap menodai sejarah adat luwu.
Saat itu juga kami menunjuk serta mengangkat A.Suriadi opu To Pasolongi.SE Sebagai makole baebunta selaku pembawa simbol bendera anak tellue, Sekaligus menjadikan Mangku/ Plt.Mokole Wawa inia rahampu,u matano dlm menghindari kekosongan Kemokolean wawa inia rahampu,u matano. Peristiwa singkat yg kami lakukan saat itu kami sampaikan juga pihak managemen vale di era Almr.Guna Wardana menjadi direktur external relation bahwa apabila perusahaan melayani yg namanx adat mokole nuha atau lembaga BPMA berarti pihak vale ikut berkontribusi besar menghancurkan sejarah adat Kedatuan Luwu. Setelah di Era kepemimpinan bapak Endra Kusuma kamipun tetap lanjutkan komunikasi pemberitahuan sehingga dalam hal ini tentu perusahaan vale harus ikut menghormati/menghargai pada tatanan adat luwu yang sebenarnya
Hal itu kami lakukan tidak ada lain selain kepentingan kemaslahatan ummat serta menjaga marwah sejarah kerajaan/kedatuan luwu.
Pesan kami pada H.baso selaku salah satu orang dituakan di sorowako, Sebaiknya berhenti utk membawa nama adat yg tidak ada dlm sejarah luwu. Sebab kami tidak akan pernah diam jika sejarah kerajaan luwu mau dinodai dengan sejarah belanda.
(Hjr)












