Luwu Timur, Sulsel , 28/03/2022
Gerakan demo disorowako Suku Weula terdengar sebagai salah satu suku terdepan dalam aksi mengatasa namakan Adat Luwu.
Melalui press rilisnya secara singkat menjelaskan Bahwa Weula atau sub anak suku tidak ada dalam data sejarah kerajaan luwu yang kami simpan,Begitu juga beberapa tulisan sejarah kerajaan luwu.
Kami tidak menemukan jika weula itu suku atau merupakan Sub anak Suku.
Namun weula merupakan suatu perkampungan yang sakral serta mempunyai kontibusi besar terhadap kerajaan luwu dikarnakan kain maejae atau kain merah sebagai kesempurnaan pajung maejae yg menjadi salah satu simbol tertinggi kerajaan luwu sebagai kerajaan pajung dalam motto luwu memegang kemuliaan.
Salah satu jejak sejarah perjuangan petta pao sehingga mendapatkan gelar Pancai Pao dikarnakan Pancai Pao selaku penata dalam Kerajaan Luwu untuk Menjaga serta Memegang Kemuliaan tana luwu sebab mampu mendapatkan lalu menyempurnakan penyelesaian pembuatan pajung melalui ritualnya di Tana Pao. berbagai sumber dari suatu perkampungan di dapatkan bahannya salah satu di baebunta sekitar.pegunungan termasuk di suatu lembah yang dinamakan Weula.
Dimana masa purba saat paham animisme masih berlaku ceritera sejarah Pajung itu dijual oleh pancai pao, pada kerajaan luwu dengan harga delapan manusia, diantaranx empat wanita Cantik yang sempurna serta mengerti tentang pemahaman tatanan adat hanya untuk dijadikan dayang dayangnya, lalu empat Laki Laki gagah perkasah/sempurna mempunyai Budi Pekerti hanya untuk dijadikan penggembala kerbaunya.
Salah satu makna yang bisa kita dapatkan dari peristiwa itu memberikan pesan bahwa begitu sakralnya adat kerajaan luwu sehingga tidak sembarang orang bisa jadi pengurus adat demi kemuliaan tana luwu dikarnakan jadi dayang dayang saja dan Penggembala binatang dibutuhkan manusia berpengetahun yang punya budi pekerti (sempurna)
Begitu beratnya yang dinamakan Amanah sebab Adat merupakan Aturan yang menjadi Hukum tunggal di masa kejayaan pemerintahan kerajaan Luwu.
Itu juga merupakan gambaran kemulian Tana Luwu Bahwa binatang saja tidak boleh dianiaya apa lagi Manusia.
Kisah sejarah itu, tentu sudah menggambarkan bahwa suatu ketika akan ada Ajaran yang akan muncul yaitu ajaran Agama Islam.
Dalam Sejarah itu pancai pao meninggalkan titah lewat nyanyiannya utk diketahui seluruh masyarakat adat Tana luwu bahwa Pemilik pajung atau kemuliaan yang menjadi simbol tertinggi dalam Kerajaan Luwu miliknya Petta Pao Alias Pancai Pao.
ELLI ELLI PAJUNG TO WARE, ELLIANGNGI PAJUNG DATUMMU TO WARE, DE,GA MUMASIRI TOWARE MITAI DATUMMU DE,NA PAJUNG.
Artinya hai rakyat belikan pajung untuk raja mu, apakah kamu tidak malu melihat raja mu tidak memiliki kemuliaan. Agar raja mu memiliki kemuliaan, Belikanlah Pajung untuk Rajamu Rakyat.
Makanya dalam ceritera Sejarah kerajaan Luwu seorang Raja/datu luwu tidak mudah bergelar Pajung bila proses pemajungan belum selesai dilakukan. Untuk menjadikan seorang Datu menjadi Pajung Maka harus dibicarakan di Tana Pao oleh para dewan Adat melalui Keputusan Pancai Pao.
Itulah sebabnya Malangke mempunyai Sejarah besar di Tana Luwu. Salah satu nilai kebesarannya Malangke adalah:
1. Pusat kerajaan berkedudukan Di Malangke.
2. Pajung yang merupakan simbol tertinggi dalam kerajaan luwu.
3.Islam diterimah secara resmi Raja Luwu ke 15 saat kerajaan berpusat di Malangke.
Sehingga keliru jika Weula dikatakan Suku atau Sub anak Suku sebab itu sama halnya mengaburkan Sejarah Kerajaan Luwu, karna Weula punya kontribusi yang merupakan Salah Satu sumber bahan kemuliaan Tana Luwu dengan adanya kain maejae atau kain merah yang didapatkan di daerah itu, dan Weula juga merupakan tempat pembinaan untuk penahanan para tawanan Kerajaan Luwu orang orang yg di anggap melawan adat dimasa lampau pada zaman kekuasaan La Patiware To Amparabbu. Petta matinroe ri Pattimang Raja Luwu Abad Ke 15 Adik kandung La Patimanjawari Petta Pao Alias Pancai Pao.
Dua sosok Putra Mahkota, saudara kandung mempunyai tugas pokok pungsi yang berbeda La Patiware (Raja Luwu) Pemegang Amanah dalam pemerintahan Kerajaan Luwu
Sedang La Patimanjari Petta Pao (Pancai Pao) Pemegang Amanah Kemuliaan di Tana Luwu.
Sehingga Dua Putra Mahkota menjadi satu kesatuan sebagai pembawa simbol pajung dalam menjalankan Amanah besar di Tana Luwu.
Itulah sebabnya Pancai Pao tidak membawahi Raja/Datu Luwu begitu pula sebaliknya Raja/Datu Luwu tidak membawahi Pancai Pao.
Namun dalam menata Kerajaan Tana Luwu Muncullah Palsafah Sipakatau Sipakaraja Sipakalebbi Sipakainge. Dimana dua bersaudara kandung menjunjung tinggi palsafah itu sebagai komitmen Untuk Saling Memanusiakan Saling Membesarkan Saling menghargai Saling mengingatkan Sebab Kerajaan Luwu mulai Pada Abad Ke 14 tidak lagi menganut sistem Kekuasaan Penuh Atau Sifatnya Kerajaan Tunggal sampai sekarang tatanan adat itu berlaku tidak boleh ada yang terjadi sifat kesewenang wenangan. Kunci
Pemegang mandat adat pancai pao.
Abidin Arief To Pallawrukka.SH
( Hajar aswad )












