Daerah  

Tangis Kehilangan Datoq Bagu, Gubernur NTB Sebut Kehilangan Pengayom Umat

Gatanews.id|Lombok Tengah – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Lalu Muhamad Iqbal mengenang Mustasyar PBNU, TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, atau Datoq Bagu sebagai ulama sepuh yang teduh, mengayomi, dan selalu merawat persatuan umat. Pesan keteladanan itu disampaikan saat pemakaman Datoq Bagu, Jumat (16/10/2026), di pemakaman keluarga dekat kompleks Asrama Putri Yayasan Ponpes Qamarul Huda Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah.

Pemakaman ulama kharismatik, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut, dihadiri jajaran Forkopimda NTB, para Tuan Guru, jajaran PWNU NTB, hingga pengurus ranting dan masyaakat yang berdatangan dari segenap penjuru Pulau Lombok, bahkan dari Pulau Bali. Gubernur Lalu Iqbal menyampaikan duka mendalam, atas kepergian sosok yang selama ini menjadi tempat umat mencari nasihat, doa, dan keteduhan.

“Bagi para pemimpin, tidak ada kehilangan yang lebih besar selain hilangnya para ulama. Kami kehilangan teman untuk mengasuh umat, mengayomi umat, dan menemani umat,” ujar Lalu Iqbal.

Menurut Lalu Iqbal, pengabdian Datoq Bagu melampaui lingkungan keluarga dan pesantren. Pengaruhnya menjangkau masyarakat NTB hingga Indonesia, karena konsistensinya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan.

“Tuan Guru Datoq Bagu bukan hanya milik keluarganya. Beliau milik kita semua, seluruh umat, seluruh warga NTB, bahkan seluruh warga Indonesia,” katanya.

Lalu Iqbal juga mengenang Datoq Bagu sebagai ulama yang memilih jalan persatuan ketimbang perpecahan. Dalam berbagai situasi kritis, kata Lalu Iqbal, almarhum hadir memberikan ketenangan dan menguatkan orang-orang di sekitarnya.

“Beliau tidak memecah belah, beliau menyatukan. Di saat-saat kritis, beliau memberikan keteduhan,” tuturnya.

Salah satu kenangan yang membekas bagi Lalu Iqbal ialah kunjungan Datoq Bagu ke Pendopo Gubernur, bahkan ketika kondisi kesehatannya menurun. Dengan kursi roda dan bantuan tabung oksigen, almarhum tetap menyempatkan diri datang untuk mendoakan serta menguatkan orang-orang yang disayanginya.

Dalam pertemuan tersebut, Datoq Bagu berpesan agar Lalu Iqbal membiasakan diri membaca doa, “Rabdhîtubillâhi rabba wa bilislâmi dina wa bi Muhammadinnabiyya wa rasûla” sebanyak tiga kali setiap hari. Pesan itu mengajarkan pentingnya keridaan, dan keteguhan hati dalam menghadapi berbagai keadaan.

“Beliau berpesan, kalau kita membiasakan diri ridho kepada Allah, agama, dan Rasulullah, kita akan ridho terhadap semua situasi. Sebab, tidak ada situasi yang diciptakan Allah tanpa maksud baik-Nya,” ujar Lalu Iqbal menirukan kata-kata Datoq Bagu.

Kepedulian Datoq Bagu terhadap umat, lanjut Lalu Iqbal, tetap terlihat hingga masa-masa terakhir kehidupannya. Saat menjalani perawatan di rumah sakit, almarhum masih membicarakan kondisi NTB, umat Islam, dan Nahdlatul Ulama. Setelah menjalani perawatan di Jakarta selama sekitar empat setengah bulan, Datoq Bagu kembali ke Lombok dan sempat dirawat di Klinik Asyifa Qamarul Huda, fasilitas kesehatan yang menjadi salah satu impiannya.

Lalu Iqbal berharap keluarga besar Qamarul Huda dapat melanjutkan cita-cita almarhum, termasuk pembangunan Fakultas Kedokteran serta pengembangan Klinik Asyifa Qamarul Huda menuju rumah sakit tipe D. Ia secara khusus mendoakan Umi Halimah dan Umi Aisyah (Dr. Hj. Baiq Idayatul Aini, M.H.I.), agar selalu diberi kesehatan dan kekuatan untuk meneruskan perjuangan Datoq Bagu.

“Kita doakan agar harapan-harapan baik Tuan Guru bisa diteruskan, khususnya bagi Yayasan Qamarul Huda yang sedang membangun Fakultas Kedokteran. Mudah-mudahan segera tercapai, begitu juga Klinik Asyifa yang diimpikan beliau bisa berkembang menjadi rumah sakit tipe D,” ucapnya.

Menutup sambutannya, Lalu Iqbal mengajak masyarakat meneladani sikap Datoq Bagu yang selalu merawat silaturahmi, mengayomi umat, dan menyatukan pihak-pihak yang berbeda. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan doa, bantuan, serta dukungan selama almarhum menjalani perawatan.

“Contoh terbaik yang kita ambil dari Tuan Guru ialah selalu mengayomi dan membuat suasana teduh. Di mana pun ada perpecahan, beliau hadir untuk mengonsolidasikan. Mudah-mudahan kita menjadi umat yang disatukan dan selalu tersambung silaturahminya,” tutup Iqbal.(djr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *