Gatanews.id|Mataram – Arus informasi digital makin cepat. Namun, wartawan diminta tak sekadar berlomba menjadi yang pertama, melainkan memastikan informasi yang disajikan tetap akurat dan terverifikasi. Pesan itu disampaikan Kepala Dinas Kominfotik NTB Dr. H. Ahsanul Khalik, Sabtu (26/9/2026), saat membuka Uji Kompetensi Wartawan (UKW) perdana Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) NTB bersama Lembaga UKW PT Aksara Solopos, di Auditorium Raudhah Bank NTB Syariah, Mataram.
“Kecepatan tidak boleh mengalahkan ketepatan,” ucap Kadis Kominfotik NTB sapaan AKA.
Menurut AKA, masyarakat membutuhkan informasi cepat sekaligus benar, berimbang, terverifikasi, dan memiliki konteks. Ia juga menegaskan Pemprov NTB menghormati kemerdekaan pers serta kritik media.
“Pemerintah tidak membutuhkan media yang hanya memberitakan keberhasilan pemerintah. Pemerintah membutuhkan media yang independen, kritis, tetapi tetap profesional dan berdasarkan fakta yang sudah terverifikasi,” ujarnya.
AKA mendorong wartawan tidak berhenti pada aktivitas menyampaikan peristiwa. Kompetensi perlu terlihat dari cara wartawan melakukan verifikasi, menjaga etika, serta menyajikan informasi untuk kepentingan publik.
“Jangan melihat kompetensi sebagai sertifikat. Jadikan kompetensi sebagai integritas yang terlihat dalam setiap berita yang Anda tulis,” katanya.
UKW perdana SMSI NTB ini diikuti 22 wartawan jenjang muda. Ketua SMSI NTB H. Abdus Syukur mengatakan, ujian tersebut menjadi ruang bagi wartawan untuk mengukur sekaligus meningkatkan kemampuan profesional.
“UKW ini sebenarnya bukan kewajiban, tapi kesadaran pribadi untuk meningkatkan kompetensi,” ungkapnya.
Sementara Direktur Lembaga UKW PT Aksara Solopos H. Syifa’ul Arifin mengatakan, perkembangan media sosial membuat masyarakat menghadapi banjir informasi. Kondisi itu menuntut wartawan tetap berpegang pada standar jurnalistik.
“Jangan ikut-ikutan kesemrawutan informasi yang ada,” kata Syifa’ul.
Menurutnya, UKW menguji tiga aspek utama, yakni kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan. Senada dengan Kadis Kominfotik NTB, Syifa’ul mengingatkan peserta agar tidak menjadikan sertifikat sebagai titik akhir profesionalisme.
“Jangan berbangga kemudian menganggap bahwa ini adalah segalanya,” sebutnya.
Sebanyak empat penguji dan satu admin dari Solopos terlibat dalam proses UKW. Para peserta diuji untuk mengukur kemampuan menjalankan kerja jurnalistik secara disiplin, independen, beretika, dan bertanggung jawab.(djr)












