Indria : Tulisan Tersebut Bukan Ditujukan Untukenyerang Pemerintahan

Gatanews.id. Jakarta — Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, Indria Febriansyah, mengaku mengalami intimidasi digital setelah beredarnya tulisan opini yang menyoroti nasib relawan non-partai pendukung Presiden Prabowo Subianto pasca Pilpres 2024.

Tulisan opini berjudul “Relawan Prabowo: Mending Jadi Lawan Politik Lebih Dihargai daripada Relawan Loyalis” itu dipublikasikan melalui Blogspot Pemuda Tamansiswa Indonesia dan membahas keresahan sebagian relawan akar rumput yang merasa belum mendapatkan perhatian setelah kemenangan politik tercapai.

Indria mengatakan tulisan tersebut bukan ditujukan untuk menyerang pemerintahan, melainkan sebagai bentuk aspirasi relawan non-partai yang selama ini terlibat dalam perjuangan politik mendukung Prabowo.

“Isi tulisan itu lebih kepada keresahan relawan yang merasa perjuangan mereka belum mendapat perhatian yang layak. Tidak ada niat menyerang pemerintahan,” kata Indria dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).

Menurut penjelasan internal organisasi, tulisan tersebut kemudian disebarkan melalui sejumlah grup WhatsApp relawan pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari. Broadcast itu juga dikirim kepada beberapa tokoh nasional dan figur yang dinilai dekat dengan lingkar pemerintahan, di antaranya Sufmi Dasco Ahmad, Prasetyo Hadi, Edy Prabowo, serta Tyasno Sudarto.

Namun, di tengah penyebaran broadcast tersebut muncul tambahan kalimat yang kemudian memicu polemik.

Kalimat itu berbunyi:

“Akan ada ledakan narasi relawan dari aliansi relawan, ikatan relawan, dan kelompok relawan Prabowo jika tetap kami dilupakan.”

Indria mengaku sempat mempertanyakan mengapa tulisan tersebut dianggap bernada ancaman politik.

“Saya cek ulang isi broadcast. Mayoritas hanya kritik sosial-politik biasa. Tetapi ternyata ada tambahan narasi pada salah satu pengiriman yang kemudian dianggap bernada ancaman,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kalimat tersebut bukan inti utama dari tulisan opini yang disebarkan.

Situasi kemudian berubah pada Minggu pagi sekitar pukul 10.02 WIB. Indria mengaku menerima pesan intimidatif dari nomor tidak dikenal melalui WhatsApp.

Beberapa pesan yang diterimanya antara lain berbunyi:

“Lo jangan macem-macem ya bisa di eksekusi.”

serta:

“Sama pasukan kandang menjangan.”

Selain pesan intimidatif, pihak organisasi juga mengaku menerima kiriman video asusila yang wajahnya diduga telah dimanipulasi menyerupai Indria.

Pihak internal Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia menilai tindakan tersebut telah melewati batas kritik demokratis karena mengarah pada serangan personal dan dugaan intimidasi digital.

“Kalau kritik dibalas argumentasi itu biasa dalam demokrasi. Tetapi kalau sudah masuk ancaman dan penyebaran konten manipulatif, tentu ini berbeda,” ujar salah satu pengurus organisasi.

Organisasi tersebut menduga ada upaya pembunuhan karakter melalui manipulasi visual dan tekanan psikologis terhadap pimpinan organisasi.

Saat ini, pihak organisasi mengaku tengah mengumpulkan bukti digital dan mempertimbangkan langkah hukum terkait dugaan ancaman, pencemaran nama baik, dan penyebaran konten manipulatif melalui media elektronik.

Di sisi lain, kasus tersebut juga disebut mencerminkan keresahan sebagian relawan non-partai yang merasa mulai tersisih dalam dinamika politik pasca pemilu.

Indria menilai banyak relawan akar rumput selama ini bergerak karena loyalitas dan keyakinan politik, bukan karena kepentingan jabatan.

“Relawan akar rumput sebenarnya tidak selalu menuntut jabatan. Banyak yang hanya ingin diakui sebagai bagian dari sejarah perjuangan politik itu sendiri,” katanya.

Meski mengaku mengalami intimidasi, Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia menegaskan tetap mendukung stabilitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Mereka juga meminta agar kritik dan aspirasi relawan tidak langsung dianggap sebagai ancaman politik.

“Jangan sampai budaya intimidasi tumbuh hanya karena ada kritik dari kelompok yang sejak lama ikut berjuang,” tutup pernyataan internal organisasi.()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *