Lombok Timur|| Gatanews.id Peristiwa dugaan keracunan dari Program Makanan Bergizi (MBG) dilaporkan terjadi di Desa Jurit Baru, Dusun Banok, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur(Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB), terus bertambah hingga saat ini data dari korwik mencpai 35 orang. Pada Jumat (24/4/2026).
Kejadian ini diduga berkaitan dengan konsumsi makanan dari SPPG Lombok Timur Pringgasela Jurit Baru, dengan jumlah korban sementara sebanyak 22 orang yang didominasi kelompok usia anak-anak.
Seluruh korban kemudian dirujuk ke Puskesmas Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, untuk mendapatkan penanganan medis.
Kepala SPPG, Halid Gazali, menyampaikan bahwa proses produksi makanan telah dilakukan sesuai prosedur, mulai dari penerimaan bahan baku pada pukul 16:30 WITA. Kemudian persiapan hingga tengah malam, proses memasak dini hari, hingga uji kelayakan oleh ahli gizi sebelum didistribusikan pada pagi hari ke sekolah dan posyandu.
Meski seluruh tahapan produksi diklaim diawasi tenaga ahli serta didukung sarana air bersih berstandar SLHS, dugaan penyebab kejadian masih dalam proses penelusuran lebih lanjut oleh pihak terkait.
Selanjutnya, Menu makanan yang didistribusikan pada hari kejadian terdiri dari bihun jagung goreng, telur ceplok, tahu cabe garam, susu ultramilk, serta pisang ketip, dengan pembagian porsi kecil untuk anak usia balita di atas 2 tahun hingga kelas 3 SD, dan porsi besar untuk kelompok usia di atasnya dengan jenis menu yang sama.
Pihak pengelola menegaskan bahwa seluruh menu telah melalui proses pengolahan dan pengawasan sesuai standar, termasuk uji organoleptik sebelum didistribusikan.
Namun demikian, setelah konsumsi makanan sekitar pukul 09.00 WITA, pihak sekolah melaporkan adanya sejumlah siswa yang mengalami gejala mual dan tidak nyaman.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala SPPG segera mengambil langkah cepat dengan mengevakuasi siswa terdampak ke fasilitas kesehatan, serta berkoordinasi dengan kepala Puskesmas, koordinator wilayah, dan instansi terkait seperti Dinas Kesehatan serta pemerintah setempat.
Upaya ini dilakukan guna memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis secara intensif, sekaligus membuka ruang penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti dari kejadian tersebut.
Berdasarkan hasil analisis sementara, kejadian ini bermula dari laporan pihak guru MI YADINU 6 Banok yang diterima oleh SPPG sekitar pukul 09.48 WITA, setelah sejumlah siswa mengalami gejala pusing, mual, dan muntah usai mengonsumsi makanan.
Penanganan awal dilakukan dengan cepat oleh pihak SPPG dengan membawa korban ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan.
Selanjutnya, Kepala Puskesmas dan koordinator wilayah melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur guna memaksimalkan penanganan terhadap seluruh korban terdampak.
Tim dari Dinas Kesehatan bersama unsur terkait, termasuk BGN, Kapokcam, Korwil, serta SPPI, turun langsung ke Puskesmas Pengadangan untuk meninjau kondisi korban, sementara Pemerintah Daerah melalui Satgas MBG turut hadir guna menstabilkan situasi di lapangan.
Selain itu, Dinas Kesehatan juga berkoordinasi dengan Loka POM Lombok Timur untuk melakukan pengambilan dan pengujian sampel makanan sebagai langkah memastikan penyebab kejadian. Berdasarkan hasil skrining awal pihak puskesmas, dugaan sementara mengarah pada reaksi alergi makanan, meskipun kepastian penyebab masih menunggu hasil uji laboratorium.
Sementra itu, Dalam laporan awal pihak terkait menegaskan bahwa pengawasan terhadap kinerja seluruh personel SPPG Lombok Timur pringgasela jurit baru akan di perketat, termasuk melalui laporan khusus oleh koodrdinator wilayah.
Hingga saat ini, proses penganan korban masih terus berlangsung di pasilutas kesehatan, dengan seluruh korban yang merupakan penerima mamfaat dari kalangan anak sekolah.
Pihak terkait juga akan memaskitkan akan terus melakukan pemantauna dan evaluasi menyeluruh guna guna mencegah kejadian serupa terulang kembali .












