Pemberitaan itu dibantah oleh Leginah (52) berdomisili di Dusun 3 Desa Naga Kesiangan, Kec. T.Tinggi, Kab. Serdang Bedagai, sebab Legina sendirilah yang meminta tolong agar Kepala Puskesmas mengijinkan ambulans Puskesmas Naga Kesiangan membawa jenazah putrinya Desiyani (36), meninggal dunia Sabtu (10/12/2022), pagi hari.
Leginah menceritakan, ia sangat berduka kehilangan putrinya yang sejak 2 bulan datang dari Binjai menderita sakit, akhirnya meninggal dunia. Ia membaringkan jenazah putrinya di warung kontrakannya yang juga menjadi tempat ia tinggalnya, lalu berlari menuju puskesmas Naga Kesiangan memohon agar ambulans puskesmas itu dapat mengantarkan jenazah putrinya ke Binjai.
Dengan menangis ia memohon pada Devi, Bidan Desa yang juga menangani penyakit putrinya sebelum meninggal. Namun bidan Devi tak mampu menolong. Leginah pun memohon pada bidan puskesmas Naga Kesiangan Rosliani Sembiring. Rosliani yang bertugas pagi itu tak tega melihat Leginah yang berurai air mata dalam duka yang dalam atas kematian putri satu’satunya.
Demi alasan kemanusiaan dan atas persetujuan Kepala Puskesmas, bidan Rosliani Sembiring mengatakan bahwa Leginah diberi ijin membawa jenazah putrinya Desyani, memakai mobil ambulans puskesmas.
Leginah pun tak menampik ketika supir memberi rincian dengan taksasi biaya oprasional. mencapai Rp 1.500.000. Leginah tidak keberatan dengan taksasi pengeluaran itu.
Jenazah Desyani lalu dibawa ke Simpang Pasar Seribu, Pasar 2 Binjai, pakai ambulance Puskesmas Naga Kesiangan. Leginah sang ibu pun membayarkan bensin Rp 400.000 di T.Tinggi saat mau berangkat ke Binjai. Dijelaskannya, rinci biaya tol Rp 200 ribu, beli minyak untuk kepulangan Rp.400.000 biaya makan supir dan temannya yang turut mengantar Rp 500.000 Pukul 12 siang Jenazah pun tiba di Binjai, mobil ambulance puskesmas pun berangkat kembali ke Naga Kesiangan.
Sementara Rosliani Sembiring kepada wartawan, Jumat (15/12/2022), Kepala Puskesmas mengizinkan mobil Ambulance milik Puskesmas Naga Kesiangan itu dipakai mengantar jenazah karena alasan kemanusiaan.
Leginah memohon untuk dapat mengantarkan jenazah putrinya ke Binjai. Pertolongan itu semata-mata atas dasar kemanusiaan bukan untuk tujuan keuntungan bagi oknum Kepala Puskesmas atau oknum Bidan Rosliani Sembiring. Penyebutan pungli, atau merentalkan mobil.ambulance tidak benar. Pengeluaran uang Leginah Rp 1.500.000 adalah untuk operasional semata, membayar bensin Rp 800.000 pulang/pergi, membayar tol Rp 200.000, makan minum supir dan pengantar Rp 500.000. Pemberitaan itu sangat menyudutkan pihak Puskesmas Naga Kesiangan.
Rosliani Sembiring telah mengutarakan hal itu kepada Kejaksaan Negeri Serdang Bedagai yang memintakan klarifikasi atas informasi tersebut. Bidan Rosliani Sembiring mengatakan, karena merasa iba pada Leginah, Kepala Puskesmas Naga Kesiangan drg. Sherlita Hutabarat mengijinkan abulans puskesmas dipakai mengantarkan putri Leginah ke Binjai. Selain merasa iba, bertepatan di hari Sabtu itu ambulans tidak sedang dipakai untuk kebutuhan puskesmas.
Ketua LSM Benteng Independen Nusantara (BIN) Sergai, Hasan Sinaga menegaskan meskipun ambulans puskesmas tidak dapat membawa jenazah namun viralnya kasus di Mamuju Sulbar harusnya jadi perhatian. Kasus itu mencuat karena Kepala Puskesmas tidak mengijinkan jenazah dibawa ambulance puskesmas, akhirnya warga membopong jenazah sejauh 13 km.
Pertimbangan manusiawi, Hasan Sinaga menilai wajar saja, menolong Leginah. Ambulans puskesmas Naga Kesiangan satu-satunya ambulans di Desa Naga Kesiangan di Kec. T.Tinggi, Sergai. Apakah kedukaan Leginah harus jadi tontonan padahal Ambulans itu sangat diperlukannya untuk mengantarkan Jenazah anaknya agar dapat dikebumikan secara agama dan ditangisi oleh keluarga yang berduka di Binjai.”Ungkap Hasan.
Konsep ambulans untuk transport orang sakit atau jenazah di kala urgen atau tidak urgen harus lah juga dimaknai dengan rasa kemanusiaan, jangan ngotot pada regulasi standard teknis. Kecuali kalau ambulans puskesmas itu dipakai untuk piknik atau pindahan rumah tentu tidak berazaskan perikemanusiaan barulah dikategorikan pungli, memperkaya oknum.
“Jangan pula kasus di Mamuju terjadi di Serdang Bedagai viral ambulans puskesmas tidak boleh membawa jenazah karena ngotot mempertahankan standard teknis.” Kata Hasan.










