Kegiatan budaya ini diadakan setahun sekali, tepatnya hari Rabu pada minggu terakhir bulan safar kalender Hijriah, masyarakat Pringgabaya melakukan upacara ritual adat budaya ‘Rebo Bontong’. Masyarakat percaya pada hari itu merupakan puncak terjadinya bencana dan penyakit,sehingga upacara dilakukan untuk menolak bala.

Kepada media,Sekertaris Desa (sekdes) Pringgabaya Khairul Azmi menjelaskan, acara adat budaya ritual ‘Rebo Bontong‘ sendiri,secara adat yang sangat sakral bagi masyarakat khususnya pelataran pesisir pantai.Dimana hajatan tersebut dilakukan sebagai bentuk syukurnya para nelayan.

Masih kata Khairul,pelaksanaan adat ritual ‘Rebo Bontong‘, atau biasa di sebut Betetulak Tamperan ini di laksanakan setiap tahun sekali, karena ini adalah kegiatan budaya yang sangat sakral bagi masyarakat pelataran pesisir pantai Tanjung menangis desa Pringgabaya.

“Hajatan oleh nelayan kita yang ada di pelataran pinggir pantai Tanjung menangis itu wajib hukumnya untuk berysukur atau berterimakasih atas rezeki yang diberikan oleh Allah kepada mereka. Rasa syukur itu diwujudkan melalui kegiatan betetulak tamperan,” jelasnya.

Kegiatan ritual budaya adat ‘Rebo bontong’, lanjut Khaerul kebiasaan yang dilaksanakan oleh masyarakat itu adalah diwajibkan keluar rumah oleh para wali terdahulu yang ada di desa Pringgabaya untuk membersihkan diri, yang mana menurutnya kepercayaan masyarakat pringgabaya terdahulu pada hari Rabu itu diturunkannya wabah dan penyakit oleh Allah.

Diyakini pada hari Rabu itu adalah hari dimana diturunkan berbagai penyakit oleh Allah. sebab pada hari Rabu itu masyarakat desa pringgabaya membersihkan diri, dan diharuskan untuk keluar dari rumah selama setengah hari untuk bersihkan diri baik di sungai,pantai atau kemanapun yang penting pada saat itu keluar dari rumah.

“Yang mana pada adat budaya ini yang di sebut ‘Rebo Bontong ‘ masyarakat diwajibkan keluar rumah oleh para wali – wali kita terdahulu yang ada di desa Pringgabaya untuk membersihkan diri,” lanjutnya.

Untuk pelaksanaan beberapa tahun kemarin bagi ia tidak diadakan karena berbagai alasan, yang mana di tahun sebelumnya itu ada bencana seperti gempa dan Covid-19.

“Nah untuk pelaksanaan beberapa tahun kemarin memang terkendala dengan beberapa hal, mulai tahun 2018 yang mana terjadi gempa bumi dan dilanjutkan oleh covid19 sehingga pada saat ini baru bisa dilaksanakan lagi dengan sangat sederhana tampa melibatkan unsur pemerintah terkait,” terangnya

“Tetapi pada tahun ini pemerintah sudah memberikan kita izin, memberikan kita lampu hijau untuk melaksanakan kegiatan adat tersebut,” lanjutnya

Ia juga mengungkapkan kalau nantinya pada tahun – tahun berikutnya pemerintah desa pringgabaya akan kembali mengintruksikan kepada warga untuk bisa menggelar kegiatan adat tersebut dengan meriah.

“Nah untuk ke depan,mungkin tahun depan kita akan mengintruksikan kepada warga untuk dapat melaksanakan kegiatan ritual atau kegiatan rebo bontong ini untuk bisa keluar rumah dan berkumpul di pantai Tanjung Menangis dusun ketapang ini,” ungkapnya

Sementara untuk proses acara ritual adat budaya ‘Rebo Bontong’ di Desa Pringgabaya sendiri dimulai pada sore hari Selasa, dengan melakukan  acara ritual mengambil air dari sumber mata air di Desa pringgabaya,kemudian Air itu dibawa ke pinggir pantai.

Selanjutnya, pada malam hari Air itu dilakukan pembacaan doa dan zikir serta pembacaan beberapa hikayat,selain itu beberapa kegaitan hiburan rakyat.Pada pagi harinya dilakukan pembacaan doa pada selesai sholat subuh.

Pada pagi hari sekitar pukul 07.00 sampai pukul 10.00 baru kemudian dilakukan ritual betetulak tamperan dengan acara seremoni penyerahan sesajen dengan diiringi oleh 44 dulang, kemudian dulang itu diserahkan kepada pemerintah setempat.Setelah itu baru kemudian diadakan pelarungan dengan izin dari pemerintah atau ketua adat setempat.

“Pelarungan itu sendiri bertujuan untuk berterimakasih dengan Allah yang menciptakan alam dan isinya,yang mana imbal balik dari Alam untuk manusia dan manusia sendiri memberikan imbalan untuk alam,” tandasnya.